Simbol
Tahun Yubileum Fransiskan • 2026

800 Tahun Wafatnya

Santo Fransiskus dari Assisi

Sebuah peringatan bersejarah, sebuah rahmat yang tak ternilai — ikuti tour ziarah Assisi dan menapaki jejak sang Poverello

10 JANUARI 2026 • 10 JANUARI 2027

Mengenal Santo Fransiskus: Si Miskin yang Mengubah Dunia

St Fransiskus
Nama asli Giovanni di Pietro di Bernardone Lahir 1181–1182, Assisi, Italia Wafat 3 Oktober 1226 Kanonisasi 16 Juli 1228 Pesta 4 Oktober Ordo Fransiskan (OFM)

Dalam sejarah panjang Gereja Katolik, sedikit nama yang bersinar seterang Fransiskus dari Assisi. Ia lahir sekitar tahun 1181 sebagai putra Pietro di Bernardone, seorang saudagar kain yang kaya di kota Assisi, Umbria, Italia. Masa mudanya penuh dengan pesta, kesenangan, dan ambisi menjadi seorang ksatria — gambaran dari pemuda berkecukupan di zamannya.

Namun sebuah rangkaian pengalaman mengubah segalanya: menjadi tawanan perang di Perugia (1202–1203), pergulatan batin yang panjang, dan akhirnya sebuah perjumpaan yang menentukan — ketika ia mencium tangan seorang penderita kusta yang ditemuinya di jalan. Di dalam diri si sakit yang dijauhi semua orang itu, Fransiskus merasakan kehadiran Kristus.

Puncaknya terjadi di kapel kecil San Damiano, ketika ia mendengar Kristus di Salib berbicara kepadanya: "Pergilah, perbaiki rumah-Ku yang hampir roboh." Fransiskus muda menanggapinya dengan serius. Ia menjual kain-kain ayahnya, melepas jubah kemewahan di hadapan uskup dan ayahnya sendiri, dan memilih hidup dalam kemiskinan radikal.

Kesederhanaan, sukacita, dan kasih Fransiskus yang tulus menarik banyak pengikut. Bersama beberapa pemuda idealis, ia membentuk Ordo Saudara-Saudara Dina (Fratres Minores) — yang kelak dikenal sebagai Ordo Fransiskan. Ordo ini mendapat restu resmi dari Paus Honorius III pada tahun 1222. Sementara itu, Santa Klara mendirikan Ordo Kedua bagi kaum perempuan yang ingin mengikuti teladannya.

Pada usia 43 tahun, di puncak Gunung La Verna, Fransiskus menerima Stigmata — tanda luka-luka Kristus pada tubuhnya. Ini adalah kesaksian paling konkret dari kedekatannya dengan Tuhan yang telah ia kejar sepanjang hidupnya. Dua tahun kemudian, pada 3 Oktober 1226, ia menyambut wafatnya dengan sukacita sebagai "Saudari Maut" — sebuah akhir yang selaras dengan seluruh semangat hidupnya.

Tradisi Damai Fransiskus: Pertemuan dengan Sultan Mesir

800 Tahun Silam

Tahun 1219. Di tengah Perang Salib Kelima, Fransiskus melakukan tindakan berani menyeberangi garis perang untuk menemui Sultan Malek al-Kamil. Alih-alih pedang, ia membawa pesan perdamaian. Pertemuan ini menjadi cikal bakal tradisi dialog antar-iman yang masih dijaga hingga hari ini.

Menembus Garis Perang

Sebelum menyeberangi garis pertahanan Muslim, Fransiskus mencoba membujuk Kardinal Pelagius — komandan pasukan Salib — untuk menghentikan serangan. Pelagius menolak mentah-mentah. Fransiskus pun mengambil keputusan yang oleh semua orang dianggap gila: ia dan sahabatnya, Bruder Illuminatus, menyeberangi Sungai Nil masuk ke wilayah musuh — tanpa senjata, tanpa perlindungan, hanya berdua.

Para penjaga Sultan segera menangkap keduanya. Mereka dipukul, disiksa, dan diseret ke hadapan Sultan Malek al-Kamil — keponakan Sultan Saladin yang legendaris. Dalam suasana di mana kepala orang Kristen dihargai sekeping emas, keberanian dua biarawan lusuh ini membingungkan semua orang.

Ketika Dua Dunia Bertatap Muka

Pertemuan dua tokoh muda itu — Fransiskus berusia 38 tahun, Sultan al-Kamil 39 tahun — berlangsung jauh dari yang dibayangkan orang. Sultan yang dilukiskan sebagai "tiran kejam" oleh propaganda Salib ternyata adalah pemimpin yang santun dan bijaksana. Fransiskus menyapa Sultan dengan kata-kata yang mengejutkan: "Semoga Tuhan memberimu kedamaian" — salam yang dalam semangatnya sangat dekat dengan "Assalamu'alaikum."

Sultan mendengarkan Fransiskus berdakwah tentang Injil dengan sabar dan penuh hormat. Ia bahkan mengizinkan Fransiskus tinggal di perkemahannya selama tiga bulan. Sebelum kepergiannya, Sultan menawarkan banyak hadiah berharga. Fransiskus menolak semuanya — kecuali satu: sebuah tanduk gading yang biasa digunakan muazin untuk mengumandangkan azan.

Kembali ke Italia, Fransiskus menggunakan tanduk gading itu untuk memanggil umatnya berdoa — sebuah isyarat indah bahwa pertemuan dengan Sultan telah mengajarkannya sesuatu yang berharga tentang doa dan ketekunan ibadah. Tanduk gading itu kini dipajang di Assisi.

Warisan yang Melampaui Zamannya

Pertemuan itu tidak menghentikan perang. Namun ia menanamkan benih yang jauh lebih berharga: bukti bahwa dialog dan kasih dapat menembus tembok kebencian yang paling tebal sekalipun. Hingga hari ini, semangat pertemuan di Damietta tersebut menjadi inspirasi bagi perdamaian dunia.

Tahun Yubileum Fransiskan 2026: Apa, Kapan, dan Mengapa?

Pada tanggal 10 Januari 2026, Gereja Katolik membuka sebuah lembaran rahmat yang istimewa. Berdasarkan Dekret resmi yang dikeluarkan oleh Apostolic Penitentiary Takhta Suci, Paus Leo XIV memproklamasikan sebuah Tahun Yubileum Khusus yang didedikasikan untuk memperingati 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi.

Apa itu Tahun Yubileum Fransiskan?

Ini adalah Tahun Yubileum Khusus (Extraordinary Jubilee) — berbeda dari Yubileum Biasa yang diadakan setiap 25 tahun. Tahun Yubileum Khusus diproklamasikan untuk memperingati momen bersejarah tertentu yang dianggap memiliki signifikansi luar biasa bagi Gereja dan dunia. Tahun ini adalah kelanjutan rohani dari Yubileum Biasa 2025 bertema "Peziarah Harapan".

Mengapa Tour Ziarah Assisi Sangat Istimewa di Tahun 2026?

📜

Pertama Dalam Sejarah

Untuk pertama kali dalam sejarah, tubuh Santo Fransiskus dipajang secara publik di Basilika Assisi atas izin Paus Leo XIV. Peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Indulgensi Penuh

Selama periode Yubileum, peziarah yang memenuhi syarat spiritual dapat memperoleh Indulgensi Penuh — rahmat pengampunan yang melampaui biasa.

🌍

Momen 800 Tahun

Peringatan 800 tahun hanya terjadi satu kali seumur hidup. Bergabunglah dengan jutaan peziarah dari seluruh dunia dalam perayaan bersejarah ini.

🕊️

Pesan Damai Universal

Di tengah konflik global, spiritualitas Fransiskan menawarkan jalan rekonsiliasi, perdamaian, dan persaudaraan yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.

🙏

Pembaruan Rohani

Ziarah ke Assisi bukan sekadar wisata — ini adalah perjalanan batin yang mengubah hati dan memperbarui iman secara mendalam.

🤝

Persekutuan Global

Bergabung dengan jutaan peziarah dari seluruh penjuru dunia — merasakan persaudaraan Kristiani yang melampaui batas bahasa dan bangsa.

"Di era yang ditandai oleh begitu banyak perang yang tampak tak berujung dan perpecahan sosial yang menciptakan ketidakpercayaan dan ketakutan — Fransiskus terus berbicara. Bukan karena ia menawarkan solusi teknis, melainkan karena hidupnya menunjuk pada sumber sejati perdamaian."

— Paus Leo XIV, Surat Apostolik untuk Tahun Yubileum Fransiskan 2026

Open chat
Halo, apa yang dapat kami bantu?