
Dalam sejarah panjang Gereja Katolik, sedikit nama yang bersinar seterang Fransiskus dari Assisi. Ia lahir sekitar tahun 1181 sebagai putra Pietro di Bernardone, seorang saudagar kain yang kaya di kota Assisi, Umbria, Italia. Masa mudanya penuh dengan pesta, kesenangan, dan ambisi menjadi seorang ksatria — gambaran dari pemuda berkecukupan di zamannya.
Namun sebuah rangkaian pengalaman mengubah segalanya: menjadi tawanan perang di Perugia (1202–1203), pergulatan batin yang panjang, dan akhirnya sebuah perjumpaan yang menentukan — ketika ia mencium tangan seorang penderita kusta yang ditemuinya di jalan. Di dalam diri si sakit yang dijauhi semua orang itu, Fransiskus merasakan kehadiran Kristus.
Puncaknya terjadi di kapel kecil San Damiano, ketika ia mendengar Kristus di Salib berbicara kepadanya: "Pergilah, perbaiki rumah-Ku yang hampir roboh." Fransiskus muda menanggapinya dengan serius. Ia menjual kain-kain ayahnya, melepas jubah kemewahan di hadapan uskup dan ayahnya sendiri, dan memilih hidup dalam kemiskinan radikal.
Kesederhanaan, sukacita, dan kasih Fransiskus yang tulus menarik banyak pengikut. Bersama beberapa pemuda idealis, ia membentuk Ordo Saudara-Saudara Dina (Fratres Minores) — yang kelak dikenal sebagai Ordo Fransiskan. Ordo ini mendapat restu resmi dari Paus Honorius III pada tahun 1222. Sementara itu, Santa Klara mendirikan Ordo Kedua bagi kaum perempuan yang ingin mengikuti teladannya.
Pada usia 43 tahun, di puncak Gunung La Verna, Fransiskus menerima Stigmata — tanda luka-luka Kristus pada tubuhnya. Ini adalah kesaksian paling konkret dari kedekatannya dengan Tuhan yang telah ia kejar sepanjang hidupnya. Dua tahun kemudian, pada 3 Oktober 1226, ia menyambut wafatnya dengan sukacita sebagai "Saudari Maut" — sebuah akhir yang selaras dengan seluruh semangat hidupnya.
