Kana: Desa Kecil Tempat Sukacita Dimulai | Seri Holyland (9)
Kana, sebuah desa kecil di Galilea, tidak jauh dari Nazaret, sekitar satu jam berjalan kaki melewati perbukitan rendah. Ladang-ladang anggur tumbuh tenang. Tidak ada alasan besar untuk mengingat Kana, kalau bukan karena satu peristiwa sederhana yang nyaris luput dari perhatian.
Justru di tempat yang tampak biasa inilah Injil Yohanes mencatat tanda pertama Yesus—sebuah awal yang sunyi, tetapi menentukan arah segalanya.
Sebuah Pesta Perkawinan
Injil Yohanes membuka kisah ini dengan kalimat yang bersahaja: “Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ” (Yohanes 2:1). Injil tidak pernah menyebut siapa pengantinnya. Yang terjadi justru jauh lebih bermakna: anggur habis.
Di budaya Timur Tengah, kehabisan anggur bukan sekadar masalah logistik. Itu memalukan. Pesta bisa berhenti sebelum waktunya, dan sukacita berubah menjadi rasa malu yang akan lama dikenang.
Maria melihatnya lebih dulu. Ia mendekat kepada Yesus dan berkata pelan, “Mereka kehabisan anggur” (Yohanes 2:3). Kalimatnya pendek, hampir seperti bisikan, namun di situlah iman bekerja: percaya bahwa situasi manusiawi ini layak dibawa kepada Allah.
Yesus tidak langsung membuat mukjizat yang mencolok. Ia meminta para pelayan mengisi enam bejana dengan air—bejana yang biasa dipakai untuk ritus penyucian orang Yahudi (Yohanes 2:6–7). Air itu biasa, namun ketika air itu diciduk dan dibawa kepada pemimpin pesta, ia telah berubah menjadi anggur.
Bukan sekadar cukup, melainkan terbaik. “Engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang” (Yohanes 2:10).
Mukjizat pertama Yesus tidak terjadi di Bait Allah, tidak di hadapan kerumunan besar. Ia terjadi di dapur sebuah pesta desa, demi menjaga kegembiraan orang-orang yang bahkan mungkin tidak sadar.
Kana di Zaman Modern
Hari ini, Kana dikenal sebagai Kafr Kanna. Para peziarah datang, menapaki jalan yang sama, mengunjungi gereja-gereja kecil, dan mengingat kisah lama itu.
Pesan Kana tidak tinggal di abad pertama. Ia hidup setiap kali seseorang percaya meski tidak sepenuhnya mengerti. Setiap kali manusia mengisi “bejana” hidupnya dengan apa yang ada lalu menyerahkannya kepada Allah.
Dari Nazaret ke Kana, langkah awal Yesus bukan tentang kuasa, melainkan kehadiran. Tentang kepedulian. Tentang sukacita yang layak dipertahankan.
Dari Kana, jalan ziarah bergerak pelan meninggalkan perbukitan Galilea. Lanskap berubah, udara mengering, dan arah perjalanan menurun ke lembah. Di depan, Yerikho menanti—kota tua yang tidak menawarkan pesta, melainkan tembok. Dari sukacita kecil yang diselamatkan di Kana, perjalanan berlanjut menuju tempat di mana iman akan diuji oleh jarak, panas, dan ketaatan.
Edisi berikutnya: Yerikho.

