Yerikho: Kota Terendah di Dunia | Seri Holyland (10)
Banyak orang mengenal Yerikho dari kisah runtuhnya tembok. Tetapi ketika benar-benar tiba di sini, yang pertama terasa bukan sejarah, melainkan udara. Panas, kering, dan sunyi.
Kota di Bawah Permukaan Laut
Yerikho berada di Lembah Yordan, sekitar satu jam perjalanan dari Yerusalem. Saat kendaraan menurun, telinga terasa sedikit berdengung—tanda bahwa kita sedang masuk ke wilayah yang sangat rendah. Dengan posisi sekitar 250 meter di bawah permukaan laut, Yerikho dikenal sebagai kota terendah di dunia.
Letaknya menjadikan kota ini seperti ambang. Dari timur, orang datang dari padang gurun. Dari barat, jalan menanjak menuju perbukitan Yerusalem. Sejak dahulu, siapa pun yang ingin masuk atau keluar tanah ini hampir pasti melewati Yerikho.
Karena itu Yerikho bukan kota tujuan. Ia kota perlintasan.
Yerikho Pertama: Kota yang Harus Dilewati Israel
Dalam Kitab Yosua, Yerikho adalah kota pertama yang dihadapi bangsa Israel setelah menyeberangi Sungai Yordan. Bukan kota terbesar, tetapi kota yang menghalangi jalan.
Setelah bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan, mereka sampai di Yerikho, sebuah kota yang tertutup rapat. Tembok-temboknya tinggi dan kuat, dan tidak seorang pun keluar atau masuk, sebab mereka takut kepada Israel (bdk. Yosua 6:1).
Berfirmanlah Tuhan kepada Yosua, supaya bangsa itu mengelilingi kota itu sekali sehari selama enam hari. Para imam membawa tabut perjanjian Tuhan, dan tujuh imam berjalan di depan tabut itu sambil membawa sangkakala. Bangsa itu diperintahkan berjalan tanpa bersuara; tidak ada teriakan, tidak ada kata yang terucap dari mulut mereka.
Demikianlah mereka mengelilingi kota ini hari demi hari, sementara kota itu tetap berdiri dalam keheningannya.
Pada hari ketujuh, mereka bangun pagi-pagi, lalu mengelilingi kota itu tujuh kali. Ketika sangkakala ditiup untuk terakhir kalinya, Yosua berseru kepada bangsa itu: “Bersoraklah, sebab Tuhan telah menyerahkan kota ini kepadamu.”
Maka bersoraklah bangsa itu, dan ketika suara sangkakala bergema, runtuhlah tembok Yerikho di tempatnya. Bangsa Israel masuk ke dalam kota itu, masing-masing lurus ke depan, dan kota itu ditaklukkan, bukan oleh pedang lebih dahulu, melainkan oleh firman Tuhan yang ditepati dalam iman (bdk. Yosua 6).
Kota Tempat Yesus Berhenti
Ketika Yesus melewati kota ini, Ia tidak hanya melintas. Ia berhenti. Di sini, Ia menyembuhkan Bartimeus yang buta, seorang yang berseru dari pinggir jalan (Markus 10:46).
Di kota yang sama, Zakheus memanjat pohon untuk melihat Yesus (Lukas 19). Detail ini terasa manusiawi: kota panas, pohon rindang, seseorang yang terlalu kecil untuk melihat kerumunan.
Yerikho menjadi tempat di mana Yesus memperhatikan mereka yang biasanya terlewatkan.
Yerikho Hari Ini: Kota yang Tidak Banyak Berubah
Hari ini, Yerikho tetap panas, sederhana, dan tenang. Tidak banyak yang berubah dalam ritmenya. Ia bukan kota yang memamerkan diri, dan mungkin karena itu ia tetap jujur.
Bagi peziarah, Yerikho sering dilewati cepat. Namun bagi yang berhenti sejenak, kota ini menawarkan sesuatu yang berbeda: kesadaran bahwa iman sering bertumbuh di jalan, bukan di tujuan.

