

Bersama New Rainbow Tour, perjalanan Camino de Santiago dihidupi sebagai ziarah yang dirangkai dengan perhatian dan kesadaran. Camino bukan hanya tentang mencapai Santiago de Compostela, melainkan tentang bagaimana setiap langkah—berjalan kaki, berhenti, dan beristirahat—menjadi bagian dari perjalanan iman yang utuh dan bermakna.
Perjalanan dimulai dari Jakarta, membawa peziarah menuju Madrid, gerbang awal kisah iman dan peradaban Spanyol. Setibanya di kota ini, ritme perjalanan sengaja dijaga tetap lembut—mengunjungi gereja Santa Teresa dan photostop di Royal Palace—sebuah pengantar sebelum melangkah lebih dalam ke perjalanan ziarah.
Dari Madrid, perjalanan mengalir ke Toledo, kota tua yang berdiri di atas sungai Tagus, tempat sejarah dan iman bertaut selama berabad-abad. Lalu menuju Ávila, kota bertembok yang hening, tempat spiritualitas Santa Teresa terasa begitu dekat—mengajak peziarah melambat, merenung, dan menyimak kembali panggilan batin.
Di Loyola, tempat kelahiran Santo Ignatius, perjalanan memasuki dimensi reflektif yang lebih dalam. Basilika megah di tengah alam Basque menjadi ruang kontemplasi tentang pertobatan dan keberanian untuk melangkah.
Perjalanan lalu berlanjut ke Bilbao, sebelum akhirnya memasuki Galicia dan tiba di Lugo—kota Romawi kuno yang tenang. Lugo dipilih secara khusus sebagai basis perjalanan Camino: sebuah keputusan yang mencerminkan filosofi New Rainbow Tour untuk memberi kenyamanan tanpa memutus ritme ziarah.
Dari Lugo, peziarah mulai menapaki Camino Francés, namun dengan pendekatan yang berbeda. Setiap etape berjalan kaki dijalani penuh, tetapi tanpa harus berpindah hotel setiap hari. Setelah selesai berjalan, peziarah kembali ke penginapan yang sama—memberi waktu pemulihan yang cukup bagi tubuh dan ruang hening bagi batin.
Etape yang dijalani meliputi:
Pendekatan ini memungkinkan peziarah mengalami Camino sepenuhnya, tanpa tekanan berlebihan, menjaga agar perjalanan tetap bermakna dan berkelanjutan.
Langkah terakhir membawa peziarah ke Plaza del Obradoiro, di hadapan Katedral Santiago de Compostela. Bagi banyak orang, inilah momen hening—bukan karena perjalanan berakhir, tetapi karena makna mulai menemukan bentuknya.
Dari Santiago, perjalanan dilanjutkan ke Porto, kota yang reflektif di tepi Sungai Douro, sebelum ditutup di Fátima. Di sini, perjalanan Camino menemukan gema doanya—dalam prosesi lilin, Rosario, dan keheningan malam yang menyatukan seluruh pengalaman.
Rute Camino bersama New Rainbow Tour dirancang dengan satu niat sederhana:
agar peziarah dapat berjalan dengan sadar, beristirahat dengan layak, dan pulang dengan pengalaman yang utuh.
Camino mungkin ditempuh dengan langkah kaki.
Namun maknanya tumbuh dari bagaimana perjalanan itu dirawat.
Buen Camino.

Camino de Santiago, atau Jalan St. Yakobus, sebuah tradisi yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun.
Sejarah Awal
Sejarah Camino de Santiago bermula pada abad ke-9, di Galicia, Spanyol barat laut. Seorang rahib bernama Pelayo menemukan makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Rasul Yakobus. Penemuan ini terjadi di tengah hutan dekat kota yang kemudian berkembang menjadi Santiago de Compostela. Berita ini cepat tersebar ke seluruh Eropa melalui pesan dan surat gereja, dianggap sebagai mukjizat.
Jalur-Jalur Peziarahan Utama
Sejak itu, umat Kristiani dari seluruh Eropa melakukan perjalanan jauh untuk menghormati Yakobus. Jalur pada abad-abad awal sangat liar dan berbahaya. Peziarah melewati hutan, sungai, dan pegunungan. Namun, keyakinan akan berkah spiritual membuat mereka rela menempuh perjalanan berbulan-bulan.
Seiring waktu, rute-rute utama terbentuk, yang kemudian dikenal sebagai Camino Francés, Camino Portugués, Camino del Norte, dan beberapa jalur lain. Setiap jalur memiliki ciri khasnya: misalnya Camino Francés melewati Prancis bagian selatan hingga Galicia, sedangkan Camino Portugués berasal dari Portugal.
Pengalaman Spiritual Peziarah
Ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik. Banyak peziarah merasakan perubahan spiritual dan refleksi pribadi. Bahkan, raja dan bangsawan Eropa ikut menempuh jalur ini untuk mendapatkan berkah. Pada abad ke-12, Gereja Katolik secara resmi mengakui ziarah ini sebagai salah satu ziarah utama, setara dengan Roma atau Yerusalem.
Camino de Santiago di Era Modern
Hingga kini, tradisi ini tetap hidup. Orang dari berbagai latar belakang berjalan kaki, bersepeda, atau menunggang kuda menelusuri rute kuno ini. Setiap peziarah menorehkan kisah sendiri, seperti peziarah abad pertengahan yang pertama kali menapaki jalan penuh doa dan harapan.
Perjalanan Penuh Makna di Camino de Santiago
Pada dasarnya, menelusuri jalur kuno Camino de Santiago bukan sekadar melakukan ziarah, melainkan juga sebuah kesempatan untuk menemukan kedamaian batin dan melakukan refleksi diri. Lebih dari itu, perjalanan ini menawarkan pengalaman unik yang sulit ditemukan di tempat lain.
Seiring setiap langkah yang diambil, Anda akan semakin dekat dengan sejarah yang kaya serta keindahan alam yang menakjubkan. Di samping itu, interaksi dengan peziarah dari berbagai penjuru dunia menghadirkan cerita, inspirasi, dan perspektif baru yang memperkaya perjalanan.
Pada akhirnya, siapa tahu langkah pertama yang Anda ambil bisa menjadi awal dari perjalanan pribadi yang tak terlupakan, tetapi juga kenangan berharga yang akan dibawa sepanjang hidup.
Daftar Sekarang

Tiberias merupakan kota di pantai Barat Laut Galilea yang menjadi salah satu dari 4 kota suci agama Yudaisme. Tiberias didirikan oleh Herodes Antipas dan penamaannya diambil dari Kaisar Tiberius seorang Kaisar Romawi Kuno. Setelah jatuhnya kota Yerusalem (70M), Tiberias menjadi salah satu tempat tinggal utama orang Yahudi di Palestina. Selama lebih dari tiga ratus tahun kota ini menjadi kota metropolitan mereka. Sejak sekitar tahun 150 M, Sanhedrin menetap di sini, dan mendirikan sekolah-sekolah kerabian, yang kemudian menjadi terkenal. Di sini, Talmud Yerusalem (atau Palestina) disusun sekitar awal abad kelima.
Di Tiberias terdapat banyak tempat penting dimana Yesus pernah hidup dan berkarya. Tempat – tempatnya antara lain Gereja Tabgha (Gereja Penggandaan Roti dan Ikan) dimana Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan. Di sampingnya ada Gereja Primat Petrus dimana Yesus pernah menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya. Kemudian Gereja Sabda Bahagia tempat Yesus mengajarkan 8 sabda bahagia, dan Kapernaum yang menjadi rumah Petrus dan Yesus mengajar serta menyembuhkan orang sakit di tempat ini. Tiberias juga memiliki danau yang sangat terkenal yaitu Danau Tiberias, dimana Yesus pernah meredakan angin ribut.
22Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. 23Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. 24Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.
Kapernaum dipercaya menjadi kampungnya Petrus dan di tempat inilah Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mat 8: 14 -16). Selain itu, Yesus banyak melakukan karya lainnya seperti menyembuhkan orang lumpuh (Mark 2: 1 – 12), mengajarkan tentang Roti Hidup (Yoh 6: 35 – 59) atau mengusir roh jahat (Luk 4: 31 – 37). Setelah Yesus wafat, rumah Petrus digunakan sebagai tempat ibadah. Meskipun Yesus pernah tinggal dan berkarya, namun Kapernaum menjadi satu dari tiga kota yang dikecam oleh Yesus. (Mat 11:20 – 24).
Kapernaum dalam bahasa Ibrani disebut Kafr Nahum yang artinya Kampung Nelayan. Dahulunya, Kapernaum menjadi daerah yang penting karena dilalui oleh jalur perdagangan yang menghubungkan Damaskus di bagian utara dan Mesir di bagian selatan. Jalur ini disebut via Maris.
Para ekskavator Fransiscan menemukan satu blok rumah yang memiliki sejarah kompleks yang disebut Insula Sacra. Pada pertengahan abad ke 5, di atas Insula Sacra dibangun sebuah gereja berbentuk segi delapan. Satu rumah di tempat ini dihormati sebagai rumah Petrus yang berada tepat di bawah gereja. Pengunjung dapat melihat sisa reruntuhan rumah Petrus melalui kaca di dalam gereja.
Saat ini, kita dapat menjumpai sinagoge yang dibangun pada abad ke 4 dengan bahan white stone. Berbeda dengan bangunan di sekitarnya yang menggunakan bahan black bassalt.
Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit.
Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus.
Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni. “Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri? ” Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka , lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–:”Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.”

Primat Peter Church atau Church of The Primacy of Saint Peter terletak bersebelahan dengan Gereja Penggandaan Roti dan Ikan. Gereja ini dibangun sekitar tahun 1933 di atas bangunan lama dari abad ke 4. Sejak abad 17 hingga saat ini, ordo Fransiskan secara resmi memiliki hak untuk pengelolaan gereja.
Masih di area Primat Peter Church, kita dapat melihat patung perunggu Santo Petrus. Patung ini merupakan salinan dari patung yang terdapat di Basilika Vatican. Gereja ini menjadi tempat terdekat dengan Danau Galilea, sehingga pengunjung dapat menikmati ketenangan dan keindahan danau.
Kita dapat menemukan bongkahan batu besar di dalam gereja yang disebut Mensa Christi. Tempat ini dipercaya merupakan tempat Yesus menyiapkan makanan bagi para rasul. Ada beberapa kisah di alkitab terjadi di sini, salah satunya adalah kisah dari Yoh 21:15 – 19.
Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.“

Gereja Penggandaan Roti dan Ikan (Gereja Multiplikasi) merupakan salah satu gereja yang terletak di Tabgha, seputaran Danau Galilea. Oleh karenanya, tempat ini juga disebut Gereja Tabgha. Kata Tabgha dalam bahasa Ibrani Ein Sheva dan bahasa Yunani Heptapegon yang artinya tujuh mata air. Tujuh mata air ini mengandung belerang dan mengalir ke Danau Galilea. Hal ini menarik ikan – ikan untuk berkumpul terutama pada musim dingin. Gereja ini juga dikenal dengan Gereja Multiplikasi. Di tempat inilah Yesus membuat mukjizat dengan memberi makan 5000 orang laki – laki dengan 5 roti dan 2 ikan hingga tersisa 12 bakul (Mark 6: 30 – 46).
Gereja Tabgha dibangun pada abad ke 4 – 5 dan menjadi salah satu gereja yang dihancurkan pada saat perang salib. Pada abad ke 18, tanah di Tabgha dibeli oleh asosiasi Katolik Jerman yang ingin membangun penginapan untuk para peziarah. Gereja ini dipulihkan oleh para biarawan Jerman dengan memasukkan bagian – bagian dari mozaik aslinya. Mozaik di lantai gereja merupakan mozaik Nile yang dibangun oleh Martyrius yang berkebangsaan Mesir. Ini merupakan salah satu ciri khas bangunan pada jaman Byzantine.
Mozaik di dekat altar berbentuk roti dan ikan untuk menggambarkan kisah Markus 6:30 – 46. Batu di bawah altar dipercaya sebagai tempat dahulunya Yesus meletakkan roti dan ikan untuk diberkati. Saat ini, Gereja Tabgha dikelola oleh Ordo Benediktin.
Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.
Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.
Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.”
Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan! ” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan 2 itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.